Harga yang Harus Dibayar untuk Bersembunyi

Kata Alkitab / 22 July 2026

Harga yang Harus Dibayar untuk Bersembunyi
Sumber: Canva.com/Freepik
Harry Lee Contributor
61

Ada semacam naluri bertahan hidup yang unik dalam jiwa manusia: kita sering kali lebih memilih menghancurkan hidup kita sendiri daripada mengambil risiko membiarkan orang lain melakukannya untuk kita.

Kita mendambakan keintiman—hubungan yang mendalam hingga ke relung jiwa—namun begitu seseorang cukup dekat untuk melihat melampaui citra luar yang kita poles sedemikian rupa, rasa panik seketika mencengkeram dada kita. Kita menarik diri, memancing pertengkaran, atau menghilang sama sekali.

Inilah tragedi sabotase diri. Dari luar, hal itu tampak seperti kehancuran, namun dari dalam, rasanya justru seperti upaya melindungi diri. Itu adalah ketakutan untuk benar-benar dikenal apa adanya. Kita melarikan diri karena sangat takut jika Tuhan—atau orang-orang yang kita cintai—melihat siapa diri kita sebenarnya dalam cahaya yang jujur dan tanpa polesan, vonisnya akan segera jatuh dan bersifat mutlak: penolakan.

 

Metafora Benteng Besi

Bayangkan seorang ksatria abad pertengahan yang membuat baju zirah. Awalnya, baju itu memiliki fungsi yang luar biasa—melindunginya dari anak panah dunia yang kejam. Namun seiring waktu, ia menjadi begitu takut terkena serangan hingga ia tak pernah melepas baju zirah itu. Ia tidur mengenakannya. Ia makan mengenakannya.

Akhirnya, baju zirah itu berkarat dan macet hingga tak bisa dibuka.

Saat orang mencoba memeluknya, mereka hanya membentur besi dingin. Saat ia menangis, air matanya menggenang di balik pelindung wajah helmnya, membutakan pandangannya. Dinding-dinding yang ia bangun untuk menghalau musuh kini justru mengurung dirinya dari cinta, kehangatan, dan oksigen. Benteng itu diam-diam telah berubah menjadi makam.

Inilah dampak dari sikap menyembunyikan diri sebagai bentuk pertahanan. Sabotase diri adalah tindakan memperkuat baju zirah yang berkarat itu. Kita berkata pada diri sendiri, “Jika aku memperlihatkan sisi diriku yang kacau kepada mereka, mereka akan pergi.” Jadi, kita mendahului mereka dengan pergi lebih dulu. Kita mengakhiri hubungan, mengacaukan wawancara kerja, atau menutup hati, sembari memegang ilusi tragis bahwa kegagalan yang kita kendalikan sendiri tidak akan sesakit penolakan yang tak terduga.

 

Baca Juga: Saat Langkah Terhenti

 

Ketakutan akan Cahaya

Ketakutan ini terasa paling mendalam saat kita menengadah kepada Tuhan. Banyak dari kita secara bawah sadar memandang Tuhan sebagai seorang auditor surgawi yang melayang di atas hidup kita dengan papan pencatat kosmis, sibuk menghitung segala kegagalan kita.

Kita lupa bahwa cahaya tidak hanya menyingkapkan; cahaya juga menyembuhkan.

Saat kita bersembunyi dari Tuhan—seperti halnya Adam dan Hawa yang bersembunyi di balik semak-semak dalam kisah Kitab Kejadian—sebenarnya kita tidak sedang menyimpan rahasia apa pun. Sifat Mahatahu berarti Dia sudah mengetahui sisi-sisi gelap yang coba kita sembunyikan. Tragedi dari tindakan kita bersembunyi bukanlah karena kita berhasil menipu Tuhan, melainkan karena kita mengasingkan diri dari satu-satunya sumber kasih karunia yang mampu memulihkan kita. Kita memperlakukan Sang Terang seolah-olah itu adalah lampu proyektor ruang pengadilan, padahal sejak awal Ia dimaksudkan sebagai lampu ruang operasi.

 

Dua Kehidupan: Penjara Persembunyian versus Kebebasan dalam Keterbukaan

Untuk memahami bagaimana hal ini terjadi dalam dunia nyata, kita bisa melihat dua tokoh sejarah. Satu orang memilih mati di dalam benteng pertahanannya sendiri; yang lain memilih jalan yang menakutkan dengan melangkah keluar menuju cahaya.

 

Pria yang Terus Bersembunyi: Howard Hughes

Howard Hughes adalah salah satu pria paling jenius, kaya, dan berpengaruh pada abad ke-20. Ia adalah seorang pelopor penerbangan, tokoh besar Hollywood, dan seorang miliarder. Namun, jauh di lubuk hatinya, Hughes didorong oleh ketakutan yang menyiksa akan kontaminasi, keterbukaan terhadap dunia luar, dan kerentanan diri.

Seiring berjalannya waktu, “cangkang” pelindung dirinya semakin menebal. Ia mulai mengurung diri di dalam kamar hotel yang gelap dan tertutup rapat. Karena ketakutan luar biasa terhadap kuman dan penghakiman dunia luar, ia memutus segala bentuk interaksi manusiawi yang tulus. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan duduk telanjang di ruangan yang gelap, menonton film secara berulang-ulang, dan menolak ditemui siapa pun kecuali segelintir asisten yang telah diseleksi dengan sangat ketat; mereka harus mematuhi instruksi tertulis yang panjang dan rinci mengenai tata cara menyerahkan sekotak tisu tanpa menyentuh tubuhnya.

Hughes membangun sebuah benteng besi yang tak tertembus. Ia mengendalikan segalanya, tidak membiarkan dirinya terekspos pada apa pun, dan berhasil mencegah siapa pun untuk benar-benar mengenalnya. Ia meninggal dunia pada tahun 1976 dalam kondisi fisik yang tidak terawat, terisolasi sepenuhnya, serta terjebak di dalam dinding-dinding—baik secara harfiah maupun psikologis—yang ia bangun sendiri demi menjaga keselamatannya.

 

Baca Juga: Jalan Menuju Keterbukaan Total

 

Sosok yang Melangkah ke Dalam Terang: Henri Nouwen

Henri Nouwen adalah seorang imam Katolik asal Belanda, akademisi yang brilian, dan profesor yang mengajar di institusi-institusi Ivy League seperti Notre Dame, Yale, dan Harvard. Menurut segala tolok ukur masyarakat, ia adalah sosok yang sangat sukses. Namun secara batin, Nouwen bergulat dengan kehancuran jiwa yang hebat, kesepian yang mendalam, serta pergulatan seumur hidup melawan kerapuhan emosional dan hubungan yang tidak berbalas.

Nouwen menyadari bahwa prestise akademisnya hanyalah ibarat baju zirah yang mengilap. Ia sangat takut jika orang lain melihat ketergantungan emosional dan rasa tidak amannya yang mendalam, ia akan disingkirkan.

Alih-alih bersembunyi seperti Hughes, Nouwen melakukan tindakan radikal: ia justru merangkul kerentanan.

Ia meninggalkan prestise Harvard dan pindah ke L'Arche Daybreak di Toronto, sebuah komunitas bagi penyandang disabilitas intelektual. Di sana, kredensial Ivy League-nya tidak ada artinya. Ia dipaksa untuk menjadi sekadar Henri—sosok yang rapuh, memiliki kebutuhan, dan manusiawi seutuhnya.

Nouwen mulai menulis buku-buku seperti “The Wounded Healer” dan “The Return of the Prodigal Son”, yang di dalamnya ia mencurahkan isi hatinya kepada dunia. Ia secara terbuka mengakui kecemasan, depresi, serta kebutuhan mendesaknya akan pengakuan. Dengan melangkah sepenuhnya ke dalam terang, Nouwen menemukan sebuah kebenaran mendalam: memperlihatkan luka-lukanya tidak membuat orang menjauh; justru hal itu menjadi jembatan yang menghubungkannya dengan jutaan pembaca yang sedang mencari kesembuhan. Ia wafat dalam keadaan dikenal seutuhnya, memiliki integritas diri yang utuh, dan dikelilingi oleh komunitas yang mencintainya apa adanya, bukan karena pencapaian atau citra dirinya.

 

Beralih dari Sikap Menyembunyikan Diri demi Pertahanan ke Kerentanan Radikal

Bagaimana kita bisa memilih jalan Nouwen alih-alih jalan Hughes? Hal itu tidak terjadi dalam satu lompatan heroik yang instan. Perubahan itu terjadi melalui tindakan-tindakan kecil sehari-hari yang dilakukan dengan sengaja untuk membuka diri.

• Kerentanan dalam Dosis Kecil

Anda tidak perlu mengungkapkan rahasia terdalam Anda kepada dunia besok. Mulailah dengan menceritakan satu hal kecil yang membuat Anda malu, atau satu aspek di mana Anda merasa gagal, kepada seorang teman tepercaya. Perhatikan bagaimana bumi tidak lantas terbelah dan menelan Anda. Sadarilah bahwa, sering kali, mereka justru menanggapi dengan berkata: “Aku juga begitu.” 

• Ubah cara pandang Anda terhadap identitas Tuhan

Alihkan perspektif Anda mengenai Sang Ilahi—dari sosok hakim yang mencari alasan untuk menghukum Anda, menjadi sosok orang tua penuh kasih yang sudah mengetahui akhir kisah Anda dan hanya menanti Anda berhenti melarikan diri. Kasih karunia tidak dapat memulihkan apa yang enggan Anda ungkapkan.

 

Baca Juga: Menanggalkan Manusia Lama, Mengalami Pembaharuan Pikiran dan Aktif Mengenakan Identitas Baru

 

• Cegah tindakan sabotase diri

Saat Anda merasa terdorong untuk merusak hal yang baik—seperti memancing pertengkaran dengan pasangan yang mulai menjalin kedekatan, atau menjauh dari komunitas yang menyayangi Anda—berhentilah sejenak dan kenali ketakutan itu. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya sebenarnya kesal pada mereka, atau saya hanya ketakutan karena mereka mulai cukup dekat untuk melihat kekurangan saya?”

Menjalani hidup dengan terus-menerus berjaga-jaga di gerbang kehidupan sendiri—diliputi ketakutan akan ketahuan—adalah hal yang sangat melelahkan. Baju zirah itu terasa berat, dan benteng pertahanan itu terasa sunyi. Melangkah keluar menuju cahaya memang menakutkan; hal itu menuntut keberanian yang radikal, bahkan keberanian yang membuat kita gemetar. Namun, hanya di sanalah kita akhirnya bisa menurunkan pertahanan, melepaskan beban yang kita pikul, serta menyadari bahwa kita sungguh dikenal sepenuhnya dan dicintai dengan begitu dalam.

 

Harry Lee MD; PsyD; BBS

Pastor & Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles

Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?